Tentang Dosa Masa Lalu

Kalo pernah baca tentang teori teorinya Sigmund Freud tentu kita tidak akan asing dengan istilah trauma masa lalu yang kemudian membentuk pola sikap manusia. Seringkali ketakutan kita dibangun dari kanstruksi trauma masa lalu. Itulah ide dasar dari Cerita yang saya dan Team bawa ke Pak Ravi pada tulisan sebelumnya. Ide cerita yang pada saat itu terasa cukup solid untuk diangkat ke layar lebar.

Pada awalnya ide cerita ini juga tidak tanpa perjuangan untuk sampai pada tahap produksi. Scream Production pada saat itu sudah terbiasa dengan pola cerita horor klasik Indonesia yang mengedepankan Jump Scare dan thrilling music. Sedangkan cerita yang saya dan Fajar Syuderajat bawa saat itu malah lebih fokus pada sisi drama dan latar belakang traumatis pada karakternya. Revisi Draft berulang ulang jadi indikasi bahwa ide cerita ini penuh perjuangan untuk masuk ke tahap produksi.

Terus terang, saya bukanlah pencerita horor yang handal. Banyak sekali kekurangan saya memahami atmosfer mistis yang harusnya bisa dibangun dalam cerita ini. Kelemahan itu yang kami coba siasati dengan pembangunan karakter yang cukup mendalam sehingga bangunan logika tersendiri dan menjadi struktur teror dengan pendekatan yang berbeda.

Saya dan Jajat, begitu saya memanggil Fajar, lebih suka membangun gradual emotion dibanding mengejutkan penonton dengan teriakan ketakutan. Lika liku kengerian dibangun bersama keterpurukan mental dan kesedihan yang mendalam. Dosa dosa masa lalu yang bermunculan ditampilkan dengan munculnya bayangan bayangan kengerian. Saya dan Jajat pun akhirnya mempersembahkan cerita kami sendiri. Dan semua pun akhirnya menyepakati menuju fase produksi.

Penantian yang Tidak Pernah Sekejap

Dimulainya fase produksi Kuyang disambut oleh tantangan tantangan besar yang harus kami hadapi di lapangan. Kenyataan bahwa kami memutuskan untuk melaksanakan produksi di daerah Jawa Barat adalah salah satu tantangan terbesarnya. Kami harus meniadakan kesan kesundaan yang sebenarnya tampil sedemikian kental di lokasi menjadi sesuatu yang terkesan antah berantah. Belum lagi perkara kesiapan team dan keterbatasan produksi lainnya membuat project ini menghabiskan waktu yang cukup lama sampai pada akhirnya selesai.

Yah, kami bertaruh keringat dan darah untuk film ini. Kami belum menyerah.

 

– Bersambung –

× Chat Us