Sebuah perjalanan karir yang amat sangat berliku…itu intinya.

Sebenarnya postingan ini harusnya dibuat dua tahun yang lalu, ketika kami beru memulai project layar lebar ini. Tapi berhubung satu dan lain hal, saya ga berani terlalu banyak sesumbar soal ini. Project ini adalah karya Layar Lebar pertama saya.

Dua tahun lalu, Desember 2017 tepatnya, saya dipertemukan oleh seorang teman dengan seorang Producer Film baik hati. Producer yang juga ikut membidani sebuah film keren di Makassar yang sempat jadi hits saat itu, Wang Panai.

Pak Ravi, producer itu mempunyai mimpi yang keren untuk membangunkan perfilman daerah dengan sebuah karya nyata. Kami ngobrol panjang mangenai Indiustri film di sebuah cafe Donut di kawasan Jakarta Utara. Pengetahuannya yang dalam tentang pasar perfilman Indonesia membuat saya yang sangat awam pada saat itu terkesima. Dia bilang, lu orang kalo mau bikin film, bikinlah dari hal yang paling mudah diterima pasar dulu. Lu butuh pasar, lu butuh orang tau dulu karya lu, lu butuh pasar lu kebangun dulu, katanya.

Perbincangan berlanjut membahas ide apa yang saya punya saat itu. Beruntung saya saat itu masih suka nulis, kebiasaan yang hampir saya tinggalkan sejak saya berhenti dari dunia jurnalistik beberapa dekade lalu. Saat itu saya terlalu sibuk berkutat dengan bagaimana cara membuat sebuah produk laku di pasaran. Saat itu saya masih menjadi budak iklan ekstrim…hehehe. Saya hanya punya beberapa potongan ide kecil yang berhasil bertahan di kepala karena jauh di lubuk hati saya terlanda rasa iri luar biasa sama temen teman saya yang sudah duluan bikin film layar lebar. Sebut saja Salman Aristo, teman sekosan saya dulu, atau Soleh Solihun yang nekat bikin biopik diri sendiri….narsis ya…hahaha.

Pembahasan ide itu akhirnya mengarah pada pengalaman saya jalan-jalan keliling Nusantara beberapa tahun sebelumnya. Banyak budaya lokal yang ternyata membuka mata saya, yang bisa dijadikan sebagai ide cerita. Pak Ravi memantang saya untuk membuat cerita horor kala itu. Wadaaaw, sebuah genre yang sebenarnya ga pernah saya suka dan ga pernah bikin saya tertarik untuk menontonnya. Bukan karena saya penakut, nggak sama sekali. Justeru karena saya ga punya kebiasaan untuk mempercayai hal mistis seperti itu. Saya mulai mencari bahan.

Beberapa hari setelah pertemuan pertama itu membuat saya sibuk menonton dan membaca apa saja yang berhubungan dengan hal mistik. Mulai dari sinetron azab sampe ke cult horor hollywood. Wadidaw, kepala saya penuh. Tapi sampai mendekati jadwal ketemu berikutnya saya belum berhasil menemukan ide, eh jangankan ide, insight ke arah sana aja belum ketemu. Parah. Sampai pada malam sebelum saya berangkat lagi ke Jakarta untuk ketemu Pak Ravi, saya nonton film Hereditary-nya Ari Aster. Saya terdiam dan terkesima dengan cara bertutur sutradara muda ini. Pendekatan horornya luar biasa ciamik. Lanjut saya nonton filmnya sutradara Raid di netflix, Apostle, karya Gareth Evans…wiiih makinlah mata saya terbuka. Film horor ga perlu dibikin norak juga ternyata. Ga harus dibikin dengan balutan Jump Scare yang berlebihan. Apalagi sebenarnya saya juga sangat suka nonton film-filmnya Steven King. Dari sana saya mulai mengerti, mengapa film horor di Amerika banyak yang disandingkan dengan genre Sci-Fi. Iya Science Fiction, karena ketika kita bedah latar belakang kemunculan ketakutannya hororpun bisa di scientifikasi. Mampus…keren banget nih. Tapi kenapa ga banyak yang ambil resiko ini ya di Indonesia?

Malam itu saya ambil beberapa booklet bekas presentasi PPM iklan saya di rak, saya mulai menulis di kertas bekas itu. Menulis apapun yang saya bisa tuangkan malam itu. Maka mulailah terbentuk ide cerita Kuyang ini. Cerita yang berdasarkan legenda rakyat Kalimantan yang ternyata sudah banyak dikenal masyarakat kita. Saya memulainya dengan kompleksitas penuturan drama, sekompleks cerita hidup saya…njirr setngah curhat sih. Jadilah Kuyang draft 1 sebagai film drama dengan twist Horor. Dan paginya saya semangat untuk bertemu Pak Ravi.

Di perjalanan, terbesit sedikit rasa pesimis. Saya buka kembali tulisan yang saya buat. Sejujurnya saya ga terlalu yakin cerita ini diterima oleh Pak Ravi yang latar belakangnya adalah producer Film Horor yang selama ini saya hindari buat menonton. Gila, saya berkata dalam hati.

Sesampai di lokasi meeting saya sempat bercucuran keringat dingin. Cerita utama yang saya bawa sempat saya umpetin. Saya malah ceritakan ide ide cerita sempalan yang saya karang selama perjalanan Bandung Jakarta tadi. Pak Ravi menanggapinya dengan pasang tampang Poker Face…njiiiir, saya merasa gagal saat itu. Sebelum makin parah saya ambil kertas saya dari dalam tas kulit buluk kesayangan saya. Saya pun mulai bercerita. Tak disangka Pak Ravi langsung menunjukkan ekspresi semangatnya. Gak lama, Pak Ravi pun langsung memberi masukan sini situ ke sinopsis yang saya bawa. Wooooow, mission accomplished, saya langsung baper dan menyalami Pak Ravi.

Terimakasih Pak. Bapak telah memberi saya kesempatan pertama untuk bikin film layar lebar…

Tamat…? Belum saudara saudara. Bagian selanjutnya lebih drama dari yang kalian bayangkan. Tunggu lagi ya di tulisan berikutnya.

– BERSAMBUNG –

× Chat Us